Titik butuh (secuil harapan yang tersisa)
Aku kembali membolak-balik lembaran-lembaran buku lama, membaca berulangkali dan mengingat erat-erat tiap kata dan kalimat yang tersurat. Kugenggam kuat buku lusuh yang tengah berada dipangkuanku, tatapan lekat yang menyiratkan semua akan baik-baik saja dan indah pada masanya.
Nafas berat tak hentinya berhembus dengan sendu, rasa sakit, kecewa dan seluruh rasa rumit semakin merasuk ulu dada. Cahaya mentari yang perlahan menerobos masuk dari jendela pun tak urung menahan luka yang tak berdarah. Ini terlalu menyakitkan untuk dikenang, pun begitu tak sedikitpun aku berniat untuk membuang seluruh kenang.
Aku butuh kepala dingin untuk mereka ulang, butuh lapang untuk menghapus seluruh kenang, butuh waktu untuk berpikir agar kembali berakal. Aku butuh menghitung langkah agar tak kembali terjungkal, butuh dinding untuk kembali bersandar setelah meringkuk dalam kegelapan, butuh air mata agar lapang isi dada, butuh warna agar kembali cerah dan terarah.
Aku butuh duduk sejenak menikmati rasa pahit yang terasa mengusik di tenggorokan yang dibasahi seteguk kopi hangat dengan pahit manis yang teramat kental, kentara sekali dengan suasana hatiku yang makin remuk tak berbentuk. Kupandangi sekali lagi jalanan yang ramai penuh hiru-pikuk, setelah lama berpikir dan meringkuk di sudut kamar, akhirnya aku kembali lagi ketempat ini, tempat dimana aku bisa menghalau sejenak sesak di ulu dada, melupakan sedikit rasa sakit yang terus mengusik, mengusap perlahan luka patah yang bahkan sudah tak bisa didefinisikan bentuknya.
Alur rumit dalam kisah patah yang makin mengusik, melubangi setiap jengkal pelataran rapuh yang telah berulangkali ku coba untuk bangkit dari rasa sakit.
Komentar
Posting Komentar