Yaudah, Bodo Amat!
Dalam keheningan malam yang mencekam, hiruk-pikuk dunia yang perlahan hilang menentramkan jiwa yang sendu dan mendekam. Terhempas oleh kenyataan yang konon tak kunjung menemukan titik terang.
Sejenak, aku merenung Apakah aku sudah baik-baik saja? Apa aku sudah siap jika esok tak mampu lagi membuka mata?
Sudah sejauh mana rasa syukurku?
Meski tak bergelimang harta, tahta, atau cinta, namun ragaku sehat-sehat saja. Tubuhku masih utuh sempurna, tangan kakiku masih dua, mataku tidak buta.
Tapi kenapa aku masih saja merutuki sesuatu yang belum bisa aku punya?
Mau sampai kapan aku tenggelam dalam kemewahan dunia yang tak ada harganya?
Bodo amat dengan orang yang punya rumah dan mobil mewah.
Bodo amat dengan orang yang bisa menabung berjuta-juta.
Bodo amat dengan orang yang bisa beli apa saja yang diinginkannya.
Bodo amat dengan orang yang berbahagia bersama keluarganya.
Bodo amat dengan orang yang ada pekerjaan tetap dan gaji banyak.
Bodo amat.
Bodo amat.
Bodo amat.
Bisikan malam seakan menggema di ujung pendengaranku :
“Ragamu masih utuh, tubuhmu masih sehat, nafasmu masih bebas, jiwamu masih kuat, dan kamu masih punya iman islam yang sesuai dengan koridor Tuhan. Itu adalah kenikmatan tiada tara, tak ada tandingannya meski kamu tak punya apa-apa untuk dibawa.”
Jangan pedulikan rejeki orang lain, Allah Sang Maha Pengatur yang adil. Jangan iri atas pencapaian siapapun kecuali pencapaian keistiqomahannya dalam mendekati Tuhannya.
☕ Teresia

Komentar
Posting Komentar