Resensi Novel "Pulang" karya Tere liye


IDENTITAS BUKU :

Tebal : 400 halaman

Tahun terbit : 2015

SBN : 9786020822129

SINOPSIS :


Novel ini menceritakan kisah seorang anak laki-laki bernama Bujang yang tinggal di pedalaman rimba Sumatra bersama Bapak dan Mamak-nya, Samad dan Midah. Hidupnya sederhana, tak berbeda seperti anak kecil pada umumnya. Suatu hari, kedatangan rombongan Tauke Besar dari kota untuk berburu di desa tempat Bujang tumbuh menjadi awal perubahan hidup Bujang.

Tak ada yang menyangka jika hari dimana dia bergabung dengan rombongan Tauke Besar untuk berburu babi di pedalaman rimba itu akan menjadi poros perubahan terbesar dalam kendali hidup Bujang. 

Malam itu, entah apa yang terjadi bujang seakan-akan kehilangan rasa takutnya. Ia berdiri dengan gagahnya melindungi Tauke Besar di saat babi besar yang gagah berani itu menunjukkan taringnya. Ia memandang rombongan Tauke besar dengan mata yang merah karena marah, hingga saru persatu pasukan tumbang karena kebengisan dari babi raksasa itu.

Di sanalah semuanya berawal, masa lalu itu akhirnya kembali terulang seperti kaset rusak yang tak berkesudahan dan darah tak akan pernah kehilangan asal-usulnya. Setelah aksi penyelamatan itu akhirnya Tauke Besar memutuskan untuk membawa Bujang pulang ke kota bersamanya sekaligus menjadi anak angkat Tauke Besar.

Tak banyak yang tau, sebenarnya keberangkatan Bujang dari kampung bukanlah kebetulan belaka namun itu sudah di rencanakan bahkan sebelum Bujang terlahir sebagai bayi dari rimba Sumatera itu. Masa lalu itu akhirnya tiba dan tak ada satupun yang dapat mencegah kepergian Bujang. Mamak-nya yang menangis sendu memikirkan nasib anak tunggalnya itu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena Bujang terlihat sangat bahagia saat ingin ikut ke kota.

Di kota, Bujang diterima dengan baik oleh penghuni Keluarga Tong yang dipimpin Tauke Besar. Seiring bertambah majunya Keluarga Tong, Bujang juga tumbuh menjadi orang yang pintar, kuat, dan ahli dalam bertarung. Semua itu terwujud berkat para guru yang disiapkan Tauke Besar.

Dua puluh tahun kemudian, Keluarga Tong telah bertransformasi menjadi salah satu penguasa shadow economy di Asia Pasifik. Bujang berperan sebagai penyelesai konflik tingkat tinggi, jagal nomor satu Keluarga Tong.

Bujang tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tangguh, Masa-masa suram kehilangan Bapak dan Mamak-nya pun masih meninggalkan luka yang begitu dalam untuknya. Bertahun-tahun lamanya ia tak pernah lagi menginjakkan kaki di rimba itu dan betapa terpuruknya dia saat mendengar berita kematian yang begitu tiba-tiba.

 Hingga semua itu hanya terukir menjadi sebuah kenangan, namun satu hal yang tak pernah bujang lupakan dari pesan Mamak-nya sebelum dia berangkat ke kota, “Nak, tak peduli seberapa gelapnya dunia yang akan kau tempuh kelak, ingat pesan mamak. Jangan memasukkan makanan dan minuman haram ke dalam perutmu sedikitpun nak. Amak relakan engkau pergi, tapi mamak mohon jaga pesan Mamak. Agar nanti segelap apapun perjalanan hidupmu kau akan tetap tau kemana kau akan berpulang Nak”.

Disisi lain, masa kepemimpinan Tauke Besar sudah mencapai akhir sehingga perebutan kekuasaan dan pengkhianatan akan bermunculan. Saat itulah Bujang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Keluarga Tong bersama bantuan dari orang-orang di masa lalunya.


KELEBIHAN


Tema cerita yang diangkat dalam novel “Pulang” termasuk unik dan jarang ditemukan, yaitu tentang shadow economy. Penulis mampu mengemas tema tersebut menjadi sebuah novel yang tidak terlalu berat, sehingga pembaca bisa mendapat ilmu baru dengan mudah. Alur dan penokohan karakter yang menarik membuat pembaca terbawa suasana dan jalan ceritanya membekas di hari para pembaca.


KEKURANGAN


Meskipun sudah ditulis dengan bahasa yang cukup mudah dimengerti, ada beberapa kosakata yang tidak dijelaskan dengan detail, sehingga pembaca kurang paham dengan kejadian tersebut. Selain itu, alur cerita di beberapa kejadian dirasa terlalu lambat dan penggunaan katanya bertele-tele, hal ini membuat pembaca merasa bosan.


PENUTUP


Saya merekomendasikan novel ini untuk pembaca yang sudah berusia remaja karena ada beberapa adegan yang tidak layak dibaca anak kecil, khususnya untuk penggemar novel bergenre action seperti “Negeri Para Bedebah” dan “Negeri Di Ujung Tanduk”. Selain itu, direkomendasikan bagi orang-orang yang ingin mencari arti pulang dalam hidupnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik butuh (secuil harapan yang tersisa)

Sayap patah🥀

Petang di Bandara