Sayap patah🥀



Pada akhirnya kita ditakdirkan untuk berjalan tidak beriringan. Semua bahagia dan getaran di ulu dada yang selalu datang tiba-tiba kini rapuh dan musnah. Pada akhirnya aku berteriak pada senja bahwa separuh jiwaku sulit untuk beranjak lebih jauh.

Aku merayakan hari ini : yah hari dimana luka itu bermulai, hari dimana goresan itu hanya umpama goresan yang sering kuabaikan. Ku kira semuanya akan tetap baik-baik saja, hatimu, hatiku dan kisah kita akan tetap abadi sebagaimana mestinya.

Memang terkadang manusia bisa merencanakan, tapi Tuhan yang menetapkan, bukan? Goresan itu menjadi bumerang untuk ulu dada rapuh yang ku kira kuat ikatannya. Rapuh, ya benar-benar hancur kala itu.

Hari ini aku akan merayakan -- kehilangan yang cukup mengusik ulu dada yang berdenyut hebat entah karena kecewa, marah atau apa. Meski memori dan rasa itu telah sirna, tapi tetap saja aku ingin merayakan peraduan rasa sakit itu. Menyelami dalam-dalam menikmati setiap luka yang pernah kau tinggalkan, melangkah lebih dekat pada kenangan yang terus bahkan tak ada cacat akan goresan. Yah, semua itu serba tiba-tiba hingga aku bahkan tak mengerti atau mungkin tak menyadari sebenarnya dimana awal kehancuran kisah kita 

Mungkin benar, diriku yang tak peka hingga aku tak menyadari kau meninggalkanku perlahan dengan sayatan-sayatan kecil yang kau goreskan, dan bodohnya setelah mendapatkan kode keras berupa luka yang berulang aku masih saja percaya bahwa kisah kita akan baik-baik saja tanpa menyadari kau telah jauh melangkah.

Hari ini aku merayakan lagi -- yah perayaan yang memang sudah berulangkali yang mungkin saja akan menjadi tradisi merayakan kehilangan seperti yang sebelum-sebelumnya. Ada rasa nyaman yang menelusup ke ulu dada saat mengenang dan menikmati luka dan rasa sakit yang memang telah serupa 'drama kolosal' yang selalu berputar dan berjoget ria di isi kepala.

Yah, inilah aku. Berdiri tegak dan kokoh setelah bangkit dari segala rasa sakit yang kau tinggalkan. Tersenyum indah pada setiap kenangan yang kadang masih saja nakal dengan ribuan tingkah ajaibnya. 

Benci? Dendam? Marah? Kecewa? Mungkin saja iya -- tapi itu dulu sebelum aku sadar bahwa luka yang akan membentuk dan mendewasakan, bukan? Hingga rasanya aku bersyukur karena kau telah menancapkan luka yang begitu dalam hingga aku mengerti bahwa hidup itu adalah seni mencintai diri sendiri, bersungguh-sungguh bahagia dan melangkah kokoh, mendekap seluruh rasa sakit, dan tersenyum menghadapi masa depan yang pernah menjadi alasanku untuk terus berlari menggapai asa.

_Teresia farza

Serang, Maret 2022




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik butuh (secuil harapan yang tersisa)

Petang di Bandara